Religious


Adakah Pemilu dalam Islam …?

Mungkin pertanyaan kita yang mendasar, apakah Pemilu (pemilihan umum) itu ada dalam Islam…? Jika Islam mengakui keberadaanya, apa dasar argumentasinya…? Bagaimana kaitannya dengan cara pemilihan Khalifah pada masa Khulafaur Rasyidin…? Lalu, apakah Pemilu dalam Islam ini sama dengan Pemilu demokrasi…? Mari kita mengkaji satu persatu jawabannya.
Benar, Pemilu memang ada dan dibolehkan oleh Islam. Sebab, kekuasaan itu ada ditangan umat (as-sulthan li al ummah). Ini merupakan satu prinsip dalam sistem pemerintahan Islam (Khalifah). Prinsip terlaksana melalui metode baiat dari pihak umat kepada seseorang untuk menjadi Khalifah (Zallum, 2002:31 ; Al – Khalidi, 1980:95). Prinsip ini berarti, seseorang tidak akan menjadi penguasa (Khalifah), kecuali atas dasar pilihan dan kerelaan umat. Pemilu (al-intikhab) dapat menjadi salah satu cara (uslub) bagi umat untuk memilih siapa yang mereka kehendaki untuk menjadi Khalifah.
Namun, perlu dipahami, bahwa Pemilu hanyalah cara (uslub), bukan metode (thariqah). Cara mempunyai sifat tidak permanen dan bisa berubah-ubah, sedangkan metode bersifat tetap dan tidak berubah-ubah (An-Nabhani, 1973:92). Lebih detilnya, cara merupakan perbuatan cabang (al-fi’l al-far’i) yang tidak mempunyai hukum khusus, yang digunakan untuk menerapkan hukum umum bagi perbuatan pokok (al-fi’l al-‘ashli). Cara Amil Zakat mengambil zakat dari muzakki apakah dengan jalan kaki atau naik kendaraan; apakah harta zakat dicatat dengan buku atau komputer; apakah harta itu dikumpulkan disatu tempat atau tidak. Semua itu merupakan perbuatan cabang yang tidak memiliki hukum khusus, karena tidak ada dalil khusus yang mengaturnya secara spesifik. Perbuatan cabang itu sudah tercakup oleh dalil umum untuk perbuatan pokok (yaitu mengambil zakat), misalnya dalil QS At-Taubah 9:103 (silahkan buka Al-Qur’annya).
Maka dari itu, semua aktivitas tersebut termasuk cara (uslub) yang hukumnya adalah mubah dan bisa saja berubah-ubah. Yang tidak boleh berubah adalah aktivitas mengambil zakat, sebab ia adalah metode yang sifatnya wajib dan tidak boleh ditinggalkanatau diubah. Termasuk juga metode adalah perbuatan cabang – dari perbuatan pokok – yang memiliki dalil khusus. Misalnya, kepada siapa zakat dibagikan, barang apa saja yang dizakati, dan berapa kadar zakat yang dikeluarkan. Semuanya, berlaku secara permanen dan tidak boleh diubah, karena sudah dijelaskan secara rinci sesuai dengan dalil – dalil khusus yang ada (An-Nabhani, 1953:1116 ; Zallum, 2002:205 – 206 ; Al-Mahmud, 1995:106-107).
Demikian pula dalam masalah pemilihan dan pengangkatan Khalifah dalam syariat Islam. Ada metode (thariqah) yang tetap dan hukumnya wajib; ada pula cara (uslub) yang bisa berubah dan hukumnya mubah. Dalam hal ini, hanya ada satu metode untuk mengangkat seseorang jadi Khalifah, yaitu baiat yang hukumnya adalah wajib (Abdullah, 1996:130-131). Dalil wajibnya baiat adalah sabda Rasulullah SAW :
“ Siapa saja yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada baiat, maka dia mati seperti mati jahiliyah” (Hadis shahih. Lihat:shahih Muslim, II/240; Majma’ Az-Zawa’id, V/223-224; Nayl Al-Awthar, VII/183; Fath Al-Bari, XVI/240).
Rasulullah SAW, mencela dengan keras orang yang tidak punya baiat, dengan sebutan “mati jahiliyah”. Artinya, ini merupakan indikasi (qarinah). Bahwa baiat itu adalah wajibhukumnya (Abdullah, 1996:131). Adapun tatacara pelaksanaan baiat (Kayfiyah ada’ al-bai’ah). Sebelum dilakukannya akad baiat, merupakan uslub yang bisa berubah-ubah (An-Nabhani, 1973:92). Dari sinilah, pemilu boleh dilakukan untuk memilih Khalifah. Sebab, pemilu adalah salah satu cara di antara sekian cara yang ada untuk melaksanakan baiat, yaitu memilih Khalifah yang akan dibaiat.
Mengapa cara pemilihan khalifah boleh berbeda dan berubah, termasuk dibolehkan juga mengambil cara Pemilu…? Sebab, ada Ijma Sahabat mengenai tidak wajibnya berpegang dengan satu cara tertentu untuk mengangkat khalifah, sebagaimana yang terjadi pada masa Khulafaur Rasyidin. Cara yang ditempuh (sebelum baiat) berbeda – beda untuk masing – masing khalifah: Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, ridhwanullah ‘alayhim. Namun, pada semua khalifah yang keempat itu selalu ada satu metode (thariqah) yang tetap, dan tidak berubah – ubah, yaitu baiat. Baiat inilah yang menjadi satu – satunya metode untuk mengangkat khalifah, tak ada metode lainnya. (Zallum, 2002:82)

Pemilihan Khulafaur Rasyidin
Baiat menurut pengertian syariat adalah hak umat melangsungkan akad Khalifah (haq al-ummah fi imdha ‘aqd al-khilafah) (Al-Khalidi, 1980, 114: 2002:26). Baiat ada dua macam : Pertama, baiat in’iqad, yaitu baiat akad khalifah. Baiat ini merupakan penyerahan kekuasaan oleh orang yang membaiat kepada seseorang sehingga kemudian ia menjadi khalifah. Kedua, baiat ath-tha’at (bay’ah ‘ammah), yaitu baiat dari kaum Muslim yang lainnya kepada khalifah, yang cukup ditampakkan dengan perilaku umat menaati khalifah (Al-Khalidi, 2002:117-124).
Baiat tersebut merupakan metode yang tetap untuk mengangkat khalifah. Maka dari itu, pada Khulafaur Rasyidin, akan selalu kita jumpai adanya baiat dari umat kepada para khalifahnya masing – masing. Adapun cara – cara praktis pengangkatan khalifah (ijra’at at-tanshib), atau cara (uslub) yang ditempuhsebelum baiat telah dilangsungkan dengan cara yang berbeda – beda. Dari cara – cara yang pernah dilakukan pada masa Khulafaur Rasyidin sebagai berikut (Zallum, 2002:72-85).
Pertama, cara seperti yang terjadi pada pengangkatan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, yaitu setelah wafatnya khalifah, dilakukan 5 langkah berikut : (1) Diselenggarakan pertemuan (ijtima’) oleh mayoritas Ahlul Halli wal Aqdi;: (2) Ahlul Halli wal Aqdi melakukan pencalonan (tarsyih) bagi satu atau beberapa orang tertentu yang layak untuk menjabat sebagai khalifah; (3) dilakukan pemilihan (ikhtiyar) terhadap salah satu dari calon tersebut; (4) dilakukan baiat in’iqad bagi calon yang terpilih; (5) dilakukan baiat ath-tha’at oleh umumnya umat kepada khalifah.
Kedua, cara seperti yang terjadi pada pengangkatan Khalifah Umar bin al-Khaththab, yaitu ketika seorang khalifah merasa wafatnya sudah dekat, dia melakukan 2 (dua) langkah berikut, baik atas inisiatifnya sendiri atau atas permintaan umat : (1) khalifah itu meminta pertimbangan (istisyarah) kepada Ahlul Halli wal Aqdi mengenai siapa yang akan menjadi khalifah setelah dia meninggal; (2) khalifah itu melakukan istikhlaf ‘ahd (penunjukkan pengganti) kepada seseorang yang akan menjadi khalifah setelah khalifah itu meninggal. Setelah itu dilakukan dua langkah lagi; (3) calon khalifah yang telah ditunjuk dibaiat dengan baiat in’iqad untuk menjadi khalifah; (4) dilakukan baiat ath-tha’at oleh umat kepada khalifah.
Ketiga, cara seperti yang terjadi pada pengangkatan Khalifah Utsman bin Affan, yaitu ketika seorang khalifah dalam keadaan sakaratul maut, atas inisiatifnya sendiri atau atas permintaan umat, dia melakukan langkah berikut : (1) khalifah melakukan penunjukkan pengganti (al-‘ahd, al- istikhlaf) bagi beberapa orang yang layak menjadi khalifah, dan memerintahkan mereka agar memilih salah seorang dari mereka untuk menjadi khalifah setelah dia meninggal, dalam jangka waktu tertentu, maksimal tiga hari. Setelah khalifah meninggal dilakukan langkah : (2) beberapa orang calon khalifah itu melakukan pemilihan (ikhtiyar) terhadap salah seorang dari mereka untuk menjadi khalifah; (3) mengumumkan nama calon terpilih kepada umat; (4) umat melakukan baiat in’iqad kepada calon terpilih itu untuk menjadi khalifah; (5) dilakukan baiat ath-tha’at oleh umat secara umum kepada khalifah.
Keempat, cara seperti yang terjadi pada pengangkatan Khalifah ali bin Abi Thalib, yaitu setelah wafatnya khalifah, dilakukan langkah sebagai berikut : (1) Ahlul Halli wal Aqdi mendatangi seseorang yang layak menjadi khalifah; (2) Ahlul Halli wal Aqdi meminta orang tersebut untuk menjadi khalifah, dan orang itu menyatakan kesediaannyasetelah merasakan kerelaan mayoritas umat; (3) umat melakukan baiat in’iqad kepada calon itu untuk menjadi khalifah; (4) dilakukan baiat ath-tha’at oleh umat secara umum kepada khalifah.
Itulah empat cara pengangkatan khalifah yang diambil dari praktik pada masa Khulafaur Rasyidin. Berdasarkan cara pengangkatan Khulafaur Rasyidin di atas, khususnya pengangkatan Utsman bin Affan, Taqiyuddin An-Nabhani (1963:137-140) dan Abdul Qadim Zallum (2002:84-85) lalu mengusulkan satu cara dalam pengangkatan khalifah. Diasumsikan ada majelis umat yang merupakan majelis wakil umat dalam melakukan musyawarah dan muhasabah (pengawasan) kepada penguasa. Cara ini terdiri dari 4 (empat) langkah :
(1) Para anggota majelis umat yang Muslim melakukan seleksi terhadap para calon khalifah, mengumumkan nama – nama mereka, dan meminta umat Islam untuk memilih salah satu dari mereka. Di sinilah Pemilu bisa dilaksanakan sebagai cara pelaksanaannya.
(2) Majelis umat mengumumkan hasil pemilihan umum (al-intikhab) dan umat Islam mengetahui siapa yang meraih suara terbanyak.
(3) Umat Islam segera membaiat (baiat in’iqad) orang yang meraih suara terbanyak sebagai khalifah.
(4) Setelah selesai baiat, diumumkan kesegenap penjuru orang yang menjadi khalifah hingga berita pengangkatannya sampai ke seluruh umat, dengan menyebut namaa dan sifat – sifatnya yang membuatnya layak menjadi khalifah.

Pemilihan Anggota Majelis Umat
Di samping Pemilu untuk memilih khalifah, dalam sistem politik Islam juga ada Pemilu untuk memilih para anggota majelis umat. Jadi, proses untuk menjadi anggota lembaga tersebut adalah melalui pemilihan (al-intikhab) oleh umat, bukan melalui pengangkatan / penentuan (at-tayin) oleh khalifah. Mengapa melalui pemilihan …? Sebab, di sini berlaku akad wakalah (perwakilan). Anggota majelis umat adalah wakil – wakil rakyat dalam penyampaian pendapat (ar-ra’yu) dan pengawasan kepada penguasa (An-Nabhani, 1990:90-96). Sedangkan wakil itu tiada lain dipilih oleh yang mewakilinya. Karena itu, anggota majelis umat, bukan diangkat atau ditentukan oleh khalifah (Zallum, 2002:221).
Mengingat Pemilu untuk memilih anggota majelis umat adalah akad wakalah; maka implikasinya berbeda dengan akad Khilafah. Dalam akad wakalah, pihak muwakil (yang mewakilkan) berhak memberhentikan wakilnya (‘azl al-wakil), sebagaimana pihak wakil boleh pula memberhentikan dirinya sendiri. Sebab, akad wakalah adalah akad yag tidak megikat (al-‘aqd al-ja’izah) (lihat : Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala al-Muzhahib al-Arba’ah, III / 148). Maka dari itu, umat memiliki hak untuk memberhentikan para wakilnya di majelis umah. Ini berbeda dengan akad Khilafah, sebab dalam akad Khilafah umat tidak berhak memberhentikan Khalifah (‘azl al-khalifah). Jadi, meskipun umat yang mengangkat dan membaiat khalifah, tetapi umat tidak berhak memberhentikan khalifah, selama akad baiat telah dilakukan sempurna sesuai dengan syariat Islam, yang berhak memberhentikannya adalah mahkamah mazhalim, yaitu lembaga peradilan (al-qadha’) yang bertugas menyelesaikan persengketaan antara umat dan penguasa / negara (Zallum, 2002:114-115).

Samakah dengan Demokrasi …?
Ketika Islam membolehkan Pemilu untuk memilih khalifah atau anggota majelis umat, bukan berarti Pemilu dalam Islam identik dengan Pemilu dalam sistem demokrasi sekarang. Dari segi cara / teknis (uslub), memang boleh dikatan sama antara Pemilu dalam sistem demokrasi dan Pemilu dalam sistem Islam (An-Nabhani, at-Tafkir, 1973:91-92; Urofsky, Demokrasi, 2003:2).
Namun demikian, dari segi falsafah dasar, prinsip, dan tujuan keduanya sangatlah berbeda; bagaikan bumi dan langit.
Pertama, Pemilu dalam demokrasi didasarkan pada falsafah dasar demokrasi itu sendiri, yaitu pemisahan agama dari kehidupan (fashl al-din ‘an al-hayyah, secularism) (Al-Khalidi, 1980:44-45), sedangkan Pemilu dalam Islam didasarkan pada akidah Islam, yang tidak pernah mengenal pemisahan agama dari kehidupan (Yahya Ismail, 1995:23).
Kedua, Pemilu dalam sistem demokrasi didasarkan pada prinsip kedaulatan di tangan rakyat (as-siyadah li asy-sya’b), sehingga rakyat, di samping mempunyai hak memilih penguasa, juga berhak membuat hukum. Sebaliknya, Pemilu dalam sistem Islam didasarkan pada prinsip kedaulatan di tangan syariat (as-siyadah li asy-syar’i), bukan di tangan rakyat. Jadi, meskipun rakyat berhak memilih pemimpinnya, kehendak rakyat wajib tunduk pada hukum al-Qur’an dan as-Sunnah. Rakyat tidak boleh membuat hukum sendiri sebagaimana yang berlaku dalam demokrasi (An-Nahwi, 1985:37-38; Ash-Shawi, 1996:69-70; Rais, 2001:311).
Ketiga, tujuan Pemilu dalam sistem demokrasi adalah memilih penguasa yang akan menjalankan peraturan yang dikehendaki dan dibuat oleh rakyat. Sebaliknya, Pemilu dalam Islam bertujuan untuk memilih penguasa yang akan menjalankan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, bukan menjalankan hukum kufur buatan manusia seperti dalam demokrasi (Zallum, 1990:1; 1994:139-140; Belhaj, 1411:5).

Daftar Pustaka :
1. Abdullah, Muhammad Husain. 1996. Mafahim Islamiyah. Juz II. Cetakan 1 Beirut : Darul Bayariq.
2. Al- Jaziri, Abdurrahman. 1999. Al-Fiqh ‘ala al-Muzhalib al-Arba’ah. Juz III. Cetakan 1 Beirut : Darul Fikr.
3. Al-Khalidi, Mahmud. 1980. Qawa’id Nizham al-hukm fi al-Islam. Kuwait; darul buhuts al-Imiyah.
4. Al-Khalidi, Mahmud. 2002. Al-Bay’at fi al_fikr as-siyasi al-Islami.
5. Al-Mahmud, Ahmad. 1995. Ad-Da’wah ila al-Islam. Cetakan 1 Beirut: Darul Ummah.
6. An-nabhani, Taqiyuddin. 1953. Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah. Juz II. Cetakan II. Al-Quds: Min Mansyurat Hizb at-Tahrir.

Iklan

Basmallah

Dari generasi ke generasi permasalahan umat akan selalu muncul sepanjang sejarah peradaban umat itu sendiri. Hanya ruang dan waktu saja yang membedakan corak permasalahan, namun mempunyai substansi yang sama.
Pada dasarnya problematika umat terbagi dalamtiga bagian, yaitu :
A. Qadhiyah Nafs ( Problematika Kejiwaan )
Masalah ini merupakan penyakit / gejala individual. Jadi dalam pencegahannya / pengobatannya dilakukan secara individual ( Fardiyyah ) yaitu dengan Tazkiyatun Nafs. Karena secara kodrati, manusia lahir ke dunia ini dibekali dengan 3 sifat utama, yaitu :
1. Muyul / Kecenderungan – Kecenderungan :
Sifat muyul ini lebih banyak dipengaruhi oleh alam sekitarnya. Jadi, diperlukan lingkungan yang islami agar sifat muyul itu sesuai dengan fitrahnya yaitu islam.
2. Gharizah / Naluri
Manusia, selain dibekali dengan sifat muyul. Dibekali pula naluri untuk melakukan sesuatu, misalnya : naluri untuk makan ketika lapar, minum ketika haus, naluri meneruskan kelangsungan hidup dan lain sebagainya. Sifat ini merupakan pembawaan manusia.
3. Syahwat
Untuk melengkapi keberadaannya, maka manusia dibekali syahwat untuk melakukan aktifitas hidupnya. Dengan syahwat ini pula orang dapat terjerumus pada aktifitas – aktifitas yang negatif baik secara moral maupun agama.

Ketiga sifat inilah yang melandasi aktifitas manusia, oleh karena itu harus mendapat arahan sesuai dengan kehendak Sang Pencipta yaitu Alloh SWT. Dalam hal ini Al – Qur’an lah sebagai suatu ketetapan yang postulat dalam mengarahkan dan membimbing manusia. Dengan demikian, penyakit – penyakit kejiwaan yang muncul dari manusia itu disebabkan karena jauhnya manusia dari ketetapan – ketetapan hukum yang postulat yaitu Al – Qur’an. Adapun penyembuhannya adalah dengan tazkiyatun Nafs melalui shalat malam, dzikir, aktifitas – aktifitas ibadah lainnya. Kecuali itu dengan melakukan proses pembinaan untuk mendalami Al – Qur’an. Dengan demikian perubahan kejiwaan pada tiap – tiap individu merupakan syarat mutlak menuju masyarakat yang lebih baik.

B. Qadhiyah Mu’ashirah ( Problematika Kontemporer )
Problema ini bersifat bersama, dengan demikian pemecahannya pun tidak dapat dilakukan sendirian, tapi secara ter-organisasi dan rapi melalui proses pembinaan. Secara historis, problema umat dibagi dalam 2 pokok permasalahan, yaitu :
1. Al – Inhirat ( Penyimpangan )
Pada fase ditandai dengan adanya :
– Penguasa yang kejam;
Sejarah mencatat, bahwa banyak sekali penguasa – penguasa diktator yang membantai kaum muslimin di beberapa negara. Padahal mereka beragama Islam, akan tetapi mereka phoby (takut) terhadap ideologi Islam. Bahkan pernah terjadi juga di Negara kita, Indonesia.
– Penyimpangan ajaran Islam;
Ajaran Islam telah diwarnai oleh berbagai pemikiran manusia, sehingga muncullah bermacam – macam bid’ah di kalangan masyarakat kita.
– Munculnya penyeru – penyeru ke neraka;
Pengaruh informasi, dalam hal ini besar sekali pengaruhnya terhadap peradaban umat Islam dan kaum muslimin yang kebanyakan berasal dari dunia ketiga. Berbagai informasi, alam filsafat dan ideologi kafir telah banyak disebarkan musuh – musuh Islam dewasa ini. Akibatnya tidak sedikit generasi muda Islam yang menerima mentah – mentah produk pemikiran dan ideologi mereka.
Pada akhirnya generasi ini membenci ideologinya sendiri yaitu Islam. Memang suatu dilematika bagi kaum Muslimin dewasa ini, di satu sisi kita tidak boleh ketinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan, disisi lain ilmu empiris yang kita terima telah dilandasi oleh teori dan ideologi tertentu yang bertujuan menghancurkan Islam.Bahkan itu terjadi juga pada para ustadz, kyai dan mereka yang ngaku para ulama ( QS 3: 69 s/d 72 ).
Mereka phoby terhadap ideologi Islam, bahkan sekarang ini mereka berani mengeluarkan fatwa haram tentang rokok dan pemilu. Bukankah setiap orang itu di atur oleh Alloh SWT apalagi jika mereka Islam, jadi dalam melakukan sesuatu itu harus minta izin dulu pada Alloh SWT / meminta petunjuk dari-Nya. Ahhhhhhhhhh pusing, mungkin saya yang gila, bego, tolol atau mereka sendiri yang gila.
Wallahu’alam bis showab.

– Penghambatan pelaksanaan ajaran Islam
Sebagai konsekuensi dari kevakuman kekhalifahan umat Islam dewasa ini, maka umat Islam berada di bawah kekuasaan pemerintah yang menggunakan hukum selain Islam. Akibatnya dalam aktifitas kegiatannya, kaum muslimin selalu dibatasi.

2. Amradu Al – Isti’mariyah ( Penyakit peninggalan Penjajah )
Setelah perang salibberakhir, maka dimulailah etape baru dalam sejarah peradaban umat Islam. Yaitu penjajahan negara – negara barat ( Kristen ) atas dunia Islam. Akibatnya tidak hanya kerugian di bidang ekonomi melainkan meliputi beberapa hal antara lain :
– Kekacauan Pemikiran
Pukulan yang terberat yang telah ditimpakan oleh penjajah pada kita bukanlah di bidang politik atau ekonomi, melainkan di bidang pemikiran dan mental. Akibatnya generasi kita, kaum muslimin mengalami kekacauan dalam berpikir.
– Kekotoran Jiwa
– Keterbelakangan
Mengentas keterbelakangan umat memerlukan proses pembinaan yang lama dan panjang. Dan hal ini harus dilakukan kaum muslimingenerasi sekarang dan yang akan datang.

C. Al – Quwwatul’ alamiyah ( Kekuatan Internasional )
Kekuatan internasional ini terbagi dalam 3 kekuatan :
1. Harakatul Yahudi ( Gerakan Yahudi )
2. Harakatul Nashara ( Gerakan misi Kristen )
3. Harakatul Musyrikin ( Gerakan Musyrikin )

Ketiga kekuatan ini dicorongkan untuk menghancurkan Islam, dengan pendekatan yang berbeda, namun mempunyai tendensi yang sama yaitu menghancurkan Islam sampai keakar – akarnya.
Merupakan tanggung jawab kitalah sebagai kaum muslimin untuk ikut berpartisipasi mengentas permasalahan umat dewasa ini. Memang disadari atau tidak, pembinaan merupakan prioritas utama dalam mengentas permasalahan umat. Tanpa itu hanya akan merupakan pekerjaan yang sia – sia dan tidak mengarah.
Adapun yang merupakan problema yang mendesak adalah bagaimana menyusun sistem pembinaan yang Islami, sehingga mampu menjawab tantangan zaman di era globalisasi ini. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa sintesa antara ilmu – ilmu empiris yang diimbangi dengan konsep – konsep Al – Qur’an serta disiplin ilmunya itulah barangkali suatu sistem pembinaan periode mendatang.
Akhirnya sejauh manakah keterlibatan kita dalam proses perubahan ini …?????
Dan apa pula usaha – usaha yang telah kita kerjakan serta program – program yang kita rancang untuk masa mendatang.

bsmlh_b


1. Muatabah

Dari segi bahasa muatabah berakar dari kata “ taba “ yang karena pengaruh perubahan bentuk bisa menjadi kata “ inabah / muatabah “. Kata ini secara hakiki mempunyai arti penyesalan dan secara lughowi muatabah adalah meninggalkan dosa2x seketika dan bertekad untuk tidak melakukannya lagi.

Taubat # QS 66 : 8.

a) Taubat dibagi menjadi 3 :

Ø Taubatul ‘am : Taubatan yg d lakukan scara umum, bila seseorang telah melakukan p’rbuatan yg menyimpang dari aturan2x yg telah d gariskan agama ( Taubatul ‘am ) QS 24 : 31

Ø Inabah : kembali dari yg baik menuju kepada yg lebih baik demi memohon keridhoan Allah. QS 50 : 32 – 33

Ø Taubatul rasul : p’rtaubatan yg d lakukan oleh para Nabi & Rasul. QS 9 : 82

b) Kewajiban bertaubat :

Ø Seorang muslim harus b’rtaubat. QS 2 : 222, 24 : 31, 66 : 8

Ø Secara hakiki manusia adalah mahluk lemah yg tidak memiliki kekuatan, daya & upaya untuk t’rlepas dari salah & dosa.

Ø Pendekatan diri kepada Allah yg d mulai dg upaya penghapusan dosa dlm p’rtaubatan.

c) 3 Prinsip dlm Menyikapi P‘rgaulan dg Sesama Manusia :

Ø Mengalah

Ø Ikhlas dlm setiap amal dan gerak langkah

Ø Pemaaf

2. Muroqobah

Secara harfiyah bisa d artikan awas – mengawasi / berintai2xan. Sementara muroqobah dalam pandangan tassawuf ada 2 definisi :

a) Menurut Al – Qusyairi, muroqobah adalah bahwa hamba tahu sepenuhnya bahwa Allah selalu melihatnya.

b) Menurut Abdul Aziz Ad – Darainy, muroqobah adalah tahu bahwa sesungguhnya Allah mendengar, mengetahui dan melihat.

Dari ke-2 definisi t’rsebut, kesimpulan yg dapat d tarik adalah bahwa muroqobah ialah suatu keadaan seseorang yg menyakini dg sepenuh hati bahwa Allah selalu melihat dan mengawasi manusia.

QS 2 : 186, 50 : 16

# Dasar2x Hukum Muroqobah :

o QS 2 : 186

o QS 50 : 16

o QS 57 : 4

o QS 67 : 13

o QS 96 : 14

o Hadist : Dari Ubadah Bin Shamit r.a : Rasululloh SAW bersabda : “ Semulia – mulianya iman seseorang adalah bahwa ia tahu sesungguhnya Allah beserta dia dimana saja berada. “

NB : Hadist d atas sebenarnya aku tidak tahu siapa rawinya, tapi karena di Al – Qur’an ada rujukannya maka aku berani menampilkan hadist ini. Jika di antara kalian ada yang tahu siapa rawinya tolong beri tahu saya.

# 2 Sebab Mengapa Manusia Tidak Merasa D Awasi Oleh Allah :

1) Banyaknya kesibukan untuk mengurusi urusan2x dunia yang tidak sedikitpun urusan tersebut ada orientasinya kepada Allah.

2) Banyaknya dosa yang telah terbiasa d lakukan.

# Buah Dari Muroqobah, ada 3 :

1) Haya’ ( Sifat Malu )

“ Malu dan iman merupakan 2 hal yang tidak bisa d pisahkan. Jika yang satu tiada maka yang lainnya pun tiada pula. “

# Ada 3 macam malu :

o Malu terhadap manusia

o Malu terhadap diri sendiri

o Malu terhadap Allah

“ Malu yg sebenarnya adalah kamu bisa menjaga kepala & pikiranmu, perut & isinya dan hendaklah kamu mengingat mati dan kebinasaan, Barangsiapa yg menginginkan kesenangan hidup d akherat, maka hendaklah meninggalkan hiasan kesenangan hidup d dunia dan lebih memilih akhirat daripada dunia. Barangsiapa yg melakukan itu, maka dia benar2x malu kepada Allah. “

2) Haibah ( Hormat )

Tumbuhnya perasaan haibah kepada Allah. Haibah d sini d mana seseorang mengagungkan Allah atas dasar haibah, dan tidak berani karena takut. Dalam rasa haibah ini sesungguhnya menumbuhkan perasaan takut.

3) Ta’dzim ( Memuliakan )

Artinya mengagungkan / membesarkan. Buah tindakan dari muroqobah setelah rasa malu dan hormat kepada Allah adalah tertanam rasa memuliakan – Nya.

3. Mujahadah

Adalah jika seseorang mempunyai keinginan kemudian d sertai kemauan untuk berbuat dan berusaha untuk mendapatkannya pastilah orang tersebut akan mendapatkannya. Arti lainnya adalah penekanan nafsu dari hal2x yang menggiurkan dan pelaksanaan melawan keinginan hawa nafsu tersebut pada setiap saat.

# Sumber Pengambilan Kata Mujahadah :

1) QS 22 : 78

2) QS 29 : 69

3) “ Kita kembali dari perjuangan yang kecil menuju pada perjuangan yang besar, yaitu perjuangan melawan Hawa Nafsu. “

4. Musyahadah

Barangsiapa yang menghiasi dirinya dengan Mujahadah, niscaya Allah akan memperbaiki Sirnya / Hatinya dengan Musyahadah. Musyahadah adalah nampaknya Allah pada hamba – Nya d mana seorang hamba tidak melihat sesuatu apapun dalam beribadah kecuali hanyalah menyaksikan dan menyakini dalam hatinya bahwa ia hanya berhadapan dan d lihat oleh Allah.

# Ada 4 Tingkatan Musyahadah :

1) Mati Tabi’i à Dzikir qolbi

2) Mati Ma’nawi à Dzikir Lathifatur Ruh

3) Mati Suri à Dzikir Lathifatur Sirri

4) Mati Hisi à Dzikir Lathifatur Hafi

5. Mukasyafah

Mukasyafah mempunyai arti terbuka tirai. Tirai d sini adalah sebuah tabir gelap yang menghalang2xi syuhudnya seorang hamba kepada Tuhannya.

# Mukasyafah terbagi 2 :

1) Mukasyafah Rubbubiyah artinya adalah terbuka tirai ke – Tuhanan.

2) Mukasyafah Ghaibiyah artinya adalah terbuka tirai keghaiban.

6. Mahabah

Secara harfiyah mahabah adalah CINTA. Tetapi apakah hakekat cinta itu ………??????????????? secara teori, cinta adalah sebuah perilaku emosional yang jauh sekali hubungannya dengan perilaku rasional.

# Buah Mahabah Kepada Allah :

1) Al – Uns

Mempunyai arti suka cinta jiwa / rasa suka dan kegembiraan yang tiada tara karena terjadinya mukasyafah kepada Allah dengan segala keindahanm dan keparipurnaan – Nya saat Taqorrub kepada Allah.

2) Wushul

Adalah manakala seorang hamba d bukakan pesona Al – Haq dan ia tenggelam d dalamnya. Menurut kebanyakan Sufi, Wushul adalah buah dari musyahadah.

3) As – Syauq

Biasa d artikan rindu. Rindu adalah merupakan perasaan yang bersatu padu dengan rasa cinta.

7. Ma’rifat

Bila d lihat segi bahasa mempunyai arti pengetahuan ( Pengetahuan yang tidak menerima keraguan lagi ). Jadi artinya adalah suatu pengetahuan yang d dasarkan atas keyajinan yang penuh terhadap sesuatu hingga hilanglah suatu keraguan.

Jalan menuju ma’rifatullah adalah mengenali hakikat manusia dan mengenali eksistensi Allah.

NB : Jika anda membaca tulisan ini, tolong baca dengan hati – hati dan cermati setiap kata per katanya. Apalagi jika anda jarang mempelajari TAUHID “ !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Maaf, tulisan d atas merupakan pendapat saya, jadi jika ada yg b’rbeda pendapat maaf saja. Karena p’rbedaan merupakan karunia dri Allah. Contohnya : jari jemari kita sendiri, mereka semua b’rbeda tapi mereka tak pernah mempersoalkan perbedaan itu malahan mereka salaing mendukung satu sama lainnya, dan itulah ISLAM “.